Miomektomi dilakukan untuk mengatasi
masalah-masalah yang disebabkan oleh fibroid rahim tanpa melakukan
histerektomi. Masalah mungkin timbul antara lain nyeri panggul, sakit punggung,
tekanan pada kandung kemih, perdarahan vagina abnormal, ketidakmampuan untuk
hamil, ketidaknyamanan selama hubungan seksual. Semua prosedur miomektomi
dilakukan atau diawasi oleh satu ahli bedah berpengalaman. Operasi dilakukan
melalui insisi suprapubik melintang. Semua wanita menerima tromboprofilaksis
(Fragmin 2500 IU setiap hari) dan antibiotik profilaksis (cephradine dan metronidazole).
Tidak ada analog gonadotropin-releasing hormon (GnRH) yang diberikan. Untuk
meminimalkan kehilangan darah perioperatif, miometrium diinfiltrasi dengan
vasopresin (Schofield) 20 unit yang diencerkan dalam 100 ml garam normal. Jahitan
Vicryl digunakan diseluruh miomektomi. Semua fibroid yang terlihat dan atau
teraba akan dienukleasi. Untuk analgesik, kombinasi PCA (24 jam pertama) dan
diklofenak per rektal (100 mg di pagi hari dan 50 mg pada malam hari) diberikan
kepada pasien. Hidrasi melalui intravena diberikan selama 24-48 jam pertama,
dan antiemetik diberikan sesuai kebutuhan pasien. Semua pasien memakai stoking
thromboprophylactic (I.T Manyonda et al, 2011).
Is fatty liver dangerous ?
Fatty liver is not dangerous if it is diagnose in the prumary stage
Pain in the right lower quadran ?
Danger about Appendicities
Wednesday, September 19, 2018
Thursday, September 13, 2018
Uterine Artery Embolization (UAE)
Uterine
Artery Embolization (UAE) juga dikenal sebagai Uterine Fibroid Embolization
(UFE). Tindakan ini adalah prosedur noninvasif yang cukup sederhana dimana
partikel-partikel kecil disuntikan kedalam arteri uterina yang memberi makan fibroid
atau mioma, dan memutuskan pasokan darah, sehingga menyebabkan ukuran mioma
dapat mengecil. Tidak seperti hysterectomy, prosedur ini akan mempertahankan
fungsi uterus. Prosedur ini telah digunakan bertahun-tahun untuk membantu
menghentikan perdarahan setelah kelahiran anak atau operasi. Bilateral UAE
dilakukan langsung oleh supervisi atau dokter yang telah berpengalman yaitu
interventional radiologist. Prosedur tersebut dilakukan melalui artery
femoralis yang diikuti dengan anestesi local. Kateter yang dipilih untuk artery
uterine yaitu jenis kateter 4-Fr dan untuk embolisasi rata-rata menggunakan 3.5
vial nonspherical PVA 355-500 µm untuk masing-masing arteri uterine.
Mula-mula radiologist membuat sayatan kecil pada kulit pasien, kemudian kateter
kecil dimasukkan kedalam arteri femoralis. Radiologist memasukkan kateter ke
arteri uterina yang mensuplai darah ke uterus. Plastik kecil atau partikel
gelatin di injeksikan melalui kateter ke dalam pembuluh darah yang mensuplai
darah ke mioma. Partikel ini akan memblokade suplai darah pada arteri kecil
yang membawa darah ke mioma. Tanpa adanya suplai darah ini, mioma akan mengecil
dan mati. Tiga dosis masing-masing Augmentin 1,2 g IV /
8 jam dan metronidazol 1 g / 12 jam diberikan sebagai antibiotic profilaksis.
Untuk analgesik, kombinasi antara diklofenak rektal (100 mg di pagi hari dan 50
mg pada malam hari) dan Patient Controlled Analgesia (PCA) diberikan biasanya
untuk 24 jam pertama tapi kadang-kadang sampai 48 jam. Hidrasi intravena
diberikan selama 24 jam pertama, dan antiemetik diberikan sesuai kebutuhan
pasien. Semua pasien memakai stoking thromboprophylactic (I.T Manyonda et al,
2011).
Wednesday, September 12, 2018
Mioma Uteri
1.Definisi
Mioma Uteri
Mioma uteri adalah tumor jinak pada daerah
rahim atau lebih tepatnya otot rahim dan jaringan ikat di sekitarnya. Mioma
belum pernah ditemukan sebelum terjadinya menarkhe, sedangkan setelah menopause
hanya kirakira 10% mioma yang masih tumbuh. Neoplasma jinak ini berasal dari
otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan
dikenal juga istilah fibromioma, leiomioma, atapun fibroid (Prawirohardjo,
2014).
Mioma
juga sering disebut sebagai fibroid, adalah tumor jinak yang berkembang di
dalam ataupun sekitar uterus. Istilah medis dari fibroid biasa disebut sebagai
leiomyomas, adalah tumor pada jaringan otot yang tumbuh pada dinding uterus
(Healthgrades 2013).
Sebagian besar kasus mioma uteri adalah tanpa
gejala, sehingga kebanyakan penderita tidak menyadari adanya kelainan pada
uterusnya. Hanya 10- 20% yang membutuhkan penanganan. Gejala klinik yang
ditimbulkan terutama perdarahan menstruasi yang berlebihan, infertilitas,
abortus berulang, dan nyeri akibat penekanan massa tumor (Thomason,2008).
Pengobatan mioma uteri dengan gejala klinik umumnya adalah tindakan
operasi yaitu histerektomi ( pengangkatan rahim ) atau pada wanita yan ingin
mempertahankan kesuburannya, miomektomi ( pengangkatan mioma ) dapat menjadi
pilihan (Djuwantono, 2004).
Secara
patologi, mioma uteri berbentuk bulat, putih mutiara, licin, dan kenyal. Mioma
uteri tidak menyatu pada lapisan myometrium melainkan dilapisi jaringan ikat
tipis di permukaan luarnya. Secara histologi, mioma uteri tersusun atas otot
polos, jaringan ikat fibrosa, dan banyak pembuluh darah (Edmonds, 2007)
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari
serviks uterus dan hanya 1-3%, sisanya adalah dari korpus uterus. Maka
pembagian menurut letaknya dapat kita dapati sebagai:
1.Mioma submukosum: berada di bawah
endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Mioma submukosum dapat tumbuh
bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan melalui saluran serviks dan
disebut myom geburt. Myom jenis ini
dapat mengalami infeksi dan nekrosis karena gangguan sirkulasi
darahnya,sehingga menimbulkan gejala metroragia atau menoragia disertai leukore
dan gangguan gangguan yang disebabkan oleh infeksi dari uterus itu sendiri.
Myom geburt sendiri sering disalahartikan dengan kanker serviks
2.Mioma intramural: mioma terdapat di
dinding uterus di antara serabut miometrium
3.Mioma subserosum: apabila tumbuh keluar
dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa.
Mioma subserosum dapat pula tumbuh menempel pada jaringan lain misalnya ke
ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus, sehingga
disebut wandering/parasitic fibroid (Prawirohardjo, 2014).
Gambar 1. Letak-letak tumbuhnya mioma
pada uterus (Miller-Keane, 2000)
2.
Epidemiologi Mioma Uteri
Kejadian mioma uteri sebesar 20-40% pada
wanita yang berusia lebih dari 35 tahun. Wanita yang sering melahirkan sedikit
kemungkinannya untuk perkembangan mioma ini dibandingkan dengan wanita yang
tidak pernah hamil atau hanya satu kali hamil. Statistik menunjukkan 60% mioma
uteri berkembang pada wanita yang tidak pernah hamil atau hanya satu kali
hamil. Prevalensi meningkat apabila ditemukan riwayat keluarga, ras dan
nulipara. Mioma uteri terjadi pada 10% wanita ras kaukasia dan 30% wanita kulit
hitam. Predisposisi genetik dan faktor-faktor lingkungan (misalnya, variasi
hormon) dapat menjadi pencetusnya. Setelah menopause, mioma menyusut karena
stimulasi estrogen sudah menurun. Sekitar 1 dari 1000 kasus mioma merupakan
leiomiosarkoma atau karsinoma (Sinclair dkk, 2010)..
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma
ditemukan hanya 0,32%-0,6% dari seluruh mioma dan merupakan 50-75% dari semua
sarkoma uterus (Prawirohardjo, 2007). Studi yang dilakukan oleh Ekine dkk
(2015) menyebutkan bahwa angka kejadian gangguan reproduksi di negara
berkembang mencapai 36% dari total beban sakit yang diderita selama masa
produktif. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20% -35% dari seluruh
wanita di dunia (Ekine et al., 2015).
.National
Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion periode
1994-1999, melaporkan bahwa mioma uteri merupakan salah satu penyebab
dilakukannya tindakan histerektomi pada wanita Amerika usia reproduktif 7.403
dari 3.525.237 histerektomi atau sekitar 2,1 per 1000 wanita.Menurut Center of Disease Prevention and Control (CDC) Tahun 2013 yang dikutip dari Rawal Medical Journal menyebutkan bahwa
tindakan histerektomi dilakukan pada sekitar
5 per 1000 wanita Amerika setiap tahun (Bhati, 2013).
3.
Etiologi Mioma Uteri
Meskipun penyebab pasti dari mioma belum
diketahui, penelitian lebih lanjut menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor
yang menyebabkan terjadinya mioma uteri, yaitu: faktor hormonal, faktor
pertumbuhan (growth factor), dan
biologi molekuler dari tumor jinak ini. Faktor-faktor ini yang kemungkinan
berperan pada inisiasi perubahan genetik pada mioma termasuk kelainan abnormal
intrinsik pada miometrium, kenaikan jumlah receptor estrogen di miometrium,
perubahan hormonal atau respon terhadap inflamasi pada saat menstruasi.
Perubahan genetik ini dipengaruhi oleh promotor (hormon) dan efektor (faktor
pertumbuhan).
Mioma merupakan monoklonal dimana sekitar 40%
kromosomnya ditemukan abnormalitas, sementara 60% sisanya mengalami mutasi yang
tidak diketahui. Perbedaan genetik antara mioma dan leiomiosarkoma menunjukkan
bahwa keduanya berasal dari sel yang berbeda dan leiomiosarkoma bukan merupakan
hasil dari degenerasi malignansi mioma. Baik estrogen maupun progesteron diduga
berperan dalam inisiasi terjadinya perkembangan mioma. Sementara faktor
pertumbuhan yang diproduksi oleh sel otot lunak dan fibroblas berperan dalam
mengontrol proliferasi dan stimulasi pertumbuhan mioma (Parker, 2007).
4. Gejala pada Mioma Uteri
Walaupun munculnya mioma tidak pernah
dikaitkan dengan mortalitas, tetapi mioma dapat meningkatkan morbiditas dan
mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Gejala-gejala yang umumnya timbul yang
patut dicurigai ke arah terjadinya mioma uteri antara lain:
- Perdarahan abnormal, biasanya menoragia,
keluhan ini yang biasanya mendorong pasien untuk memeriksakan diri
- Periode menstruasi >7 hari
- Nyeri pelvis
- Gangguan berkemih seperti sulit berkemih
tuntas, nokturia, inkontinensia urin
- Konstipasi
- Nyeri punggung,
ataupun nyeri pada tungkai atas (mayoclinic).
Pada mioma geburt gejala yang menonjol berupa
perdarahan pervaginam diantara siklus haid yang bervariasi mulai dari
perdarahan bercak hingga perdarahan massif. Darah yang keluar berupa darah
segar dan kadang disertai nyeri sehingga dapat diduga sebagai haid yang
memanjang. Selain itu mioma submukosa juga dapat menyebabkan perdarahan intermenstrual, perdarahan post coital,
perdarahan vaginal terus menerus atau dismenore (Prawirohardjo, 2014).
5.
Penegakan Diagnosis pada Mioma Uteri
Leiomioma dapat dikaitkan dengan
ketidakteraturan menstruasi, nyeri, dan infertilitas. Oleh karena itu,
diperlukan diagnosis banding berbasis gejala secara menyeluruh seperti tertera
pada tabel yang diambil dari Kate E. Rice, 2012 berikut
Diagnosis mioma geburt dapat ditegakkan mulai
dari anamnesis, dimana pasien bisa meraba suatu massa yang menonjol keluar dari
jalan lahir yang dirasakan bertambah panjang serta adanya riwayat perdarahan
pervginam terutama pada perempuan pada usia 40 tahun, kadang juga dikeluhkan
perdarahan kontak seperti saat berhubungan seksual.
Pada pemeriksaan laboratorium, temuan anemia
merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini disebabkan perdarahan uterus
yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadang-kadang mioma menghasilkan
eritopoetin yang pada beberapa kasus meyebabkan polisetemia. Adanya hubungan
antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan mioma
terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik ureter dan kemudian
menginduksi pembentukan eritropoetin ginjal. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan
darah lengkap, urin lengkap dan tes kehamilan pada pasien mioma (Prawirohardjo,
2014).
Secara klinis mioma subserosa dan intramural
dapat didiagnosa dari pemeriksaan pada pelvis dengan temuan adanya perbesaran,
bentuk abnormal dan irregular, dan non tender pada uterus. Pemeriksaan dengan
USG tidak diperlukan jika diagnosis hampir pasti dapat ditegakkan. Tetapi
umumnya untuk mioma submukosa diperlukan konfirmasi hasil pemeriksaan dengan pencitraan
seperti USG, histeroskopi, saline-infusion sonography atau MRI untuk menegakkan
diagnosa (Parker, 2007).
Pencitraan dengan radiologi juga dapat
dilakukan untuk mendukung diagnosa mioma uteri. Pencitraan radiologi yang dapat
dilakukan antara lain USG, saline infusión sonography, histeroskopi dan MRI.
USG transvaginal adalah pencitraan yang paling sering tersedia dan paling murah
dalam segi biaya dan membantu dalam membedakan mioma dengan kondisi lain dari
pelvis. Mioma dengan ukuran yang besar mungkin lebih baik bila dicitrakan
dengan kombinasi antara USG transabdominal dan transvaginal. Hasil USG pada
mioma dapat bervariasi, tetapi umumnya kesan simetris, batas tegas, hipoekoik,
dan massa yang heterogen. USG mungkin tidak adekuat dalam menentukan pastinya
berapa jumlah mioma yang ada dan posisi dari mioma, tetapi USG transvaginal
dapat menentukan dengan syarat volume uterus <375ml atau berisi empat mioma
atau lebih sedikit.
MRI adalah alat yang paling baik saat ini
untuk menentukan jumlah, posisi dan ukuran dari mioma uteri dan mempunyai
modalitas paling baik untuk melihat penetrasi dari mioma submukosa pada
miometrium. Keunggulan MRI lainnya adalah tidak adanya ketergantungan terhadap
teknik yang dilakukan oleh operator dan rendahnya tingkat perbedaan dalam
pembacaan interpretasi oleh pemeriksa dari gambaran mioma submukosa, mioma
intramural dan adenomiosis dibandingkan dengan menggunakan USG transvaginal,
saline-infusion sonogram ataupun histeroskopi (Parker, 2007)
6.
Penatalaksanaan Mioma Uteri
Tidak semua mioma uteri memerlukan
pembedahan, 55% dari semua mioma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan dalam
bentuk apa pun, terutama apabila mioma itu masih kecil dan tidak menimbulkan
gangguan. Walaupun demikian mioma uteri memerlukan pengamatan setiap 3-6 bulan.
Penanganan mioma uteri menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor terbagi
menjadi:
1.Terapi medisinal (hormonal)
Saat ini pemakaian Gonadotropin-releasing hormone
(GnRH) agonis memberikan hasil yang baik memperbaiki gejala klinis mioma uteri. Tujuan pemberian GnRH
agonis adalah mengurangi ukuran mioma dengan jalan mengurangi produksi estrogen
dari ovarium. Pemberian GnRH agonis sebelum dilakukan tindakan pembedahan akan
mengurangi vaskularisasi pada tumor sehingga akan memudahkan tindakan
pembedahan. Terapi hormonal yang lainnya seperti kontrasepsi oral dan preparat
progesteron akan mengurangi gejala pendarahan tetapi tidak mengurangi ukuran
mioma uteri (Hadibroto, 2005).
2.Terapi pembedahan
Indikasi terapi bedah untuk mioma uteri
menurut American College of obstetricians and Gyneclogist (ACOG) dan American Society of Reproductive Medicine (ASRM)
antara lain:
a.
Perdarahan uterus
yang tidak respon terhadap terapi konservatif
b.
Dugaan adanya
keganasan
c.
Pertumbuhan mioma
pada masa menopause
d.
Infertilitas
kerana gangguan pada cavum uteri maupun karena oklusi tuba
e.
Nyeri dan
penekanan yang sangat menganggu
f.
Gangguan berkemih
maupun obstruksi traktus urinarius
g.
Anemia akibat perdarahan (Hadibroto,2005).
Tindakan pembedahan yang dilakukan
adalah miomektomi atau histerektomi.
1.
Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma
saja tanpa pengangkatan uterus. Miomektomi ini dilakukan pada wanita yang ingin
mempertahankan fungsi reproduksinya dan tidak ingin dilakukan histerektomi.
Tindakan ini dapat dikerjakan misalnya pada mioma submukosum dengan cara
ekstirpasi lewat vagina. Apabila miomektomi ini dikerjakan karena keinginan
memperoleh anak, maka kemungkinan akan terjadi kehamilan adalah 30-50%
(Prawirohardjo, 2014). Tindakan miomektomi dapat dilakukan dengan laparotomi,
histeroskopi maupun dengan laparoskopi. Pada laparotomi, dilakukan insisi pada
dinding abdomen untuk mengangkat mioma dari uterus. Keunggulan melakukan
miomektomi adalah lapangan pandang operasi yang lebih luas sehingga penanganan
terhadap perdarahan yang mungkin timbul pada pembedahan miomektomi dapat
ditangani dengan segera. Namun pada miomektomi secara laparotomi resiko terjadi
perlengketan lebih besar, sehingga akan mempengaruhi faktor fertilitas pada
pasien, disamping masa penyembuhan paska operasi lebih lama, sekitar 4-6
minggu. Pada miomektomi secara histeroskopi dilakukan terhadap mioma submukosum
yang terletak pada kavum uteri. Keunggulan teknik ini adalah masa penyembuhan
paska operasi sekitar 2 hari. Komplikasi yang serius jarang terjadi namun dapat
timbul perlukaan pada dinding uterus, ketidakseimbangan elektrolit dan
perdarahan. Miomektomi juga dapat dilakukan dengan menggunakan laparoskopi.
Mioma yang bertangkai diluar kavum uteri dapat diangkat dengan mudah secara
laparoskopi. Mioma subserosum yang terletak didaerah permukaan uterus juga
dapat diangkat dengan tehnik ini. Keunggulan laparoskopi adalah masa
penyembuhan paska operasi sekitar 2-7 hari. Resiko yang terjadi pada pembedahan
ini termasuk perlengketan, trauma terhadap organ sekitar seperti usus, ovarium,
rektum serta perdarahan. Sampai saat ini miomektomi dengan laparoskopi
merupakan prosedur standar bagi wanita dengan mioma uteri yang masih ingin
mempertahankan fungsi reproduksinya (Hadibroto, 2005).
2.
Histerektomi
Histerektomi adalah pengangkatan uterus, yang
umumnya adalah tindakan terpilih (Prawirohardjo, 2014). Tindakan histerektomi
pada mioma uteri sebesar 30% dari seluruh kasus. Histerektomi dijalankan
apabila didapati keluhan menorrhagia, metrorrhagia, keluhan obstruksi pada
traktus urinarius dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12-14 minggu
(Hadibroto, 2005). Tindakan histerektomi dapat dilakukan secara abdominal
(laparotomi), vaginal dan pada beberapa kasus dilakukan laparoskopi.
Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu total abdominal hysterectomy (TAH) dan subtotal abdominal histerectomy
(STAH). Masing - masing prosedur ini memiliki
kelebihan dan kekurangan. STAH dilakukan untuk menghindari resiko operasi yang
lebih besar seperti perdarahan yang banyak, trauma operasi pada ureter, kandung
kemih dan rektum. Namun dengan melakukan STAH kita meninggalkan serviks, di
mana kemungkinan timbulnya karsinoma serviks dapat terjadi. Pada TAH, jaringan
granulasi yang timbul pada tungkul vagina dapat menjadi sumber timbulnya sekret
vagina dan perdarahan paska operasi di mana keadaan ini tidak terjadi pada
pasien yang menjalani STAH. Histerektomi juga dapat dilakukan pervaginam,
dimana tindakan operasi tidak melalui insisi pada abdomen. Secara umum
histerektomi vaginal hampir seluruhnya merupakan prosedur operasi
ekstraperitoneal, dimana peritoneum yang dibuka sangat minimal sehingga trauma
yang mungkin timbul pada usus dapat diminimalisasi. Maka histerektomi
pervaginam tidak terlihat parut bekas operasi sehingga memuaskan pasien dari
segi kosmetik. Selain itu kemungkinan terjadinya perlengketan paska operasi
lebih minimal dan masa penyembuhan lebih cepat dibanding histerektomi abdominal
(Hadibroto, 2005).
7.
Komplikasi Mioma Uteri
Komplikasi
yang terjadi pada mioma uteri :
a) Degenerasi Ganas
Mioma
uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari seluruh mioma,
serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya baru
ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan
akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran
sarang mioma dalam menopause.
b) Torsi (Putaran Tangkai)
Sarang
mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen akut.
Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi. Hal ini
hendaknya dibedakan dengan suatu keadaan di mana terdapat banyak sarang mioma
dalam rongga peritoneum.
c) Nekrosis dan Infeksi
Sarang
mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan karena gangguan
sirkulasi darah padanya. Misalnya terjadi pada mioma yang dilahirkan hingga
perdarahan berupa mtroragia atau menoragia disertai leukorea dan
gangguangangguan yang disebabkan oleh infeksi dari uterus sendiri.
d) Mempengaruhi kehamilan
Mengurangi kemungkinan perempuan menjadi hamil,
terutama miomauteri submukosum. Kemungkinan abortus juga akan bertambah.
Kelainan letak janin dalam rahim kemungkinan juga dapat terjadi, terutama pada
mioma yang besar dan letak subserosum (Prawirohardjo, 2014).
Friday, September 7, 2018
Vakum Ekstraksi
Ekstraksi
vakum adalah persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi tekanan
negatif dengan menggunakan ekstraktor vakum dari malstrom. Persalinan dengan
ekstraksi vakum dilakukan apabila ada indikasi persalinan dan syarat persalinan
terpenuhi. Indikasi persalinan dengan ekstraksi vakum adalah:
a) Ibu mengalami kelelahan tetapi masih mempunyai
kekuatan untuk mengejan
b) Partus macet pada kala II
c) Gawat janin
d) Toksemia gravidarum
e) Ruptur uteri mengancam
Persalinan dengan
indikasi tersebut dapat dilakukan dengan ekstraksi vakum dengan catatan
persyaratan persalinan pervaginam memenuhi. Syarat untuk melakukan ekstraksi
vakum yaitu:
a) Pembukaan
lengkap
b) Penurunan
kepala janin pada hodge III
Keuntungan
ekstraksi vakum
Keuntungan ekstraksi
vakum:
a) Mangkuk
dapat dipasang waktu kepala masih di hodge III dengan demikian mengurangi
frakuensi seksio sesaria
b) Tidak
perlu diketahui posisi kepala dengan tepat, mangkuk dapat dipasang pada
belakang kepala samping kepala ataupun dahi
c) Mangkuk
dapat dipasang meskipun pembukaan belum lengkap, misalnya pada pembukaan 8 – 9
cm, untuk mempercepat pembukaan, untuk itu dilakukan tarikan yang kontinu
sehingga kepala menekan pada serviks tapi tarikan tidak boleh terlalu kuat
untuk menghindari robekan serviks dan tidak boleh terpasang lebih dari ½ jam
untuk menghindari kemungkinan timbulnya perdarahan otak.
Kerugian
ekstraksi vakum
Kerugian ekstraksi
vakum:
a) Kelainan
janin yang tidak segera terlihat (neurologis)
b) Tidak
dapat digunakan untuk melindungi kepala janin preterm
Beberapa
ketentuan mengenai ekstraksi vakum
a) Mangkuk
tidak boleh dipasang pada ubun-ubun besar
b) Penurunan
tekanan harus berangsur-angsur
c) Mangkuk
dengan tekanan negatif tidak boleh terpasang lebih dari ½ jam
d) Penarikan
waktu ekstraksi hanya dilakukan pada waktu ada his dan ibu mengejan
e) Apabila
kepala masih agak tinggi (hodge III)
sebaiknya dipasang mangkuk yang terbesar
f) Mangkuk
tidak boleh dipasang pada muka bayi
g) Vakum
ekstraksi tidak boleh dilakukan pada
bayi prematur
Bahaya
ekstraksi vakum
a) Terhadap
ibu: robekan serviks atau vagina karena terjepit antara kepala bayi dan mangkuk
b) Terhadap
anak: perdarahan dalam otak
Susunan
ekstraktor vakum
a) Mangkuk
Mangkuk
ini digunakan untuk membuat kaput suksadaneum buatan sehingga mangkuk dapat
mencekam kepala janin. Sekaran ini terdapat dua macam mangkuk yaiu mangkuk yang
terbuat dari bahan logam dan plastik. Beberapa laporan menyebutkan bahwa
mangkuk plastik kurang traumatis dibandingkan dengan mangkuk logam. Mangkuk
umumnya berdiameter 4cm sampai dengan 6cm. Pada punggung mangkuk terdapat:
-
Tonjolan berlubang
tempat insersi rantai penarik
-
Tonjolan berlubang yag
menghubungkan rongga mangkuk dengan pipa penghubung
-
Tonjolan landai sabagai
tanda untuk titik petunjuk kepala janin (point
of direction)
b) Rantai
penghubung
Rantai
penghubung terbuat dari logan yang berfungsi menghubungkan mangkuk dengan
pemegang
c) Pipa
penghubung
Pipa
penghubung terbuat dari karet atau plastik yang lentuk yang tidak akan berkerut
oleh tenakan negatif. Pipa penghubung berfungsi sebagai penghubung tekanan
negatif mangkuk dengan botol.
d) Botol
Botol
merupakan tempat cadangan tekanan negatif dan tempat penampungan cairan yang
mungkin ikut tersedot (air ketuban, lendir serviks, darah)
e) Pompa
penghisap
Dapat
berupa pompa penghisap manual maupun listrik
Wednesday, September 5, 2018
Kortikosteroid pada Ibu Hamil
1.
Pengertian Kortikosteroid
Kortikosteroid adalah derivat hormon steroid yang dihasilkan oleh
kelenjar adrenal. Hormon ini memiliki peranan penting seperti mengontrol respon
inflamasi. Hormon steroid dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu glukokortikoid
dan mineralokortikoid. Glukokortikoid memiliki efek penting pada metabolisme
karbohidrat dan fungsi imun, sedangkan mineralokortikoid memiliki efek kuat
terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit. Pada manusia, glukokortikoid yang
utama adalah kortisol dan mineralokortikoid yang terpenting adalah aldosterone.
Kortisol (disebut juga hidrokortison, senyawa F) memiliki banyak efek
fisiologis, termasuk regulasi metabolisme perantara, fungsi kardiovaskular,
pertumbuhan, dan imunitas. Sintesis dan sekresinya diregulasi secara ketat oleh
sistem saraf pusat, yang sangat sensitif terhadap umpan balik negatif oleh
kortisol dan glukokortikoid eksogen (sintetik) dalam peredaran (Katzung, 2007).
2. Indikasi Penggunaan Kortikosteroid Antenatal
Indikasi penggunaan kortikosteroid saat antenatal pada usia kehamilan
24-34 minggu yaitu untuk wanita hamil yang berisiko melahirkan preterm,
perdarahan antepartum (antepartum haemorrage), premature rupture of membrane (PPROM) (RCOG, 2010).
Dalam lebih dari dua dekade, kortikosteroid telah diberikan pada masa
antenatal dengan maksud mengurangi komplikasi, terutama RDS pada bayi prematur.
Apabila dilihat dari lamanya interval waktu mulai saat pemberian steroid sampai
kelahiran, tampak bahwa interval 24 jam sampai tujuh hari memberi keuntungan
yang lebih besar dengan rasio kemungkinan 0,38 terjadinya RDS. Sementara
apabila interval kurang dari 24 jam OR 0,70 dan apabila lebih dari 7 hari OR
0,41 (ACOG, 1998). Penelitian US Collaborative
tahun 1981 melaporkan perbedaan bermakna insiden RDS dengan pemberian steroid
antenatal pada kehamilan 30-34 minggu dengan interval antara 24 jam sampai
dengan tujuh hari. Sementara penelitian Liggins dan Howie mendapati insidens
RDS lebih rendah apabila interval waktu antara saat pemberian steroid sampai
kelahiran adalah dua hari sampai kurang dari tujuh hari dan perbedaan ini
bermakna. Mereka menganjurkan steroid harus diberikan paling tidak 24 jam
sebelum terjadi kelahiran agar terlihat manfaatnya terhadap pematangan paru
janin. Pemberian steroid setelah lahir tidak bermanfaat karena kerusakan telah
terjadi sebelum steroid bekerja.
3. Dosis dan Cara Pemberian Kortikosteroid Antenatal
Jenis kortikosteroid yang diberikan adalah deksametason atau
betametason.. Efek optimal terjadi 24 jam setelah pemberian terakhir mencapai
puncak dalam waktu 48 jam dan bertahan sampai 7 hari.
Pemberian siklus tunggal kortikosteroid adalah :
a. Betametason 2x2 mg intramuskular dengan jarak pemberian 24 jam selama
48jam.
b. Deksametason 4x6 mg intramuskular dengan jarak pemberian 12 jam
selama 48 jam (RCOG, 2010) atau Deksametason 4x8 mg per oral selama 48 jam
(Egerman, 1998).
4. Mekanisme Kerja Kortikosteroid
Mekanisme kortikosteroid untuk menurunkan frekuensi gawat napas adalah
induksi protein-protein yang mengatur sistem biokimia pada sel tipe II yang
menghasilkan surfaktan di dalam paru-paru janin. Efek fisiologis glukokortikoid
pada paru yang sedang berkembang antara lain peningkatan surfaktan alveolus,
ketegangan paru dan volume paru maksimal.
Tuesday, September 4, 2018
Maturasi Paru Janin
MATURASI PARU JANIN
Organogenesis paru janin dapat dibagi menjadi lima tahapan yang berbeda.
Tahapan awal meliputi fase embrionik (hari ke 26 hingga
52)
dan fase pseudoglanduler (hari ke 52 hingga
akhir minggu ke-16 kehamilan) yang berikutnya adalah fase kanalikuler (17
hingga 26 minggu kehamilan), fase sakuler (26 hingga 36 minggu kehamilan) dan
terakhir adalah fase alveolar (36 minggu sampai 24 bulan postnatal) (Jobe,
2006).
1. Fase embrional
Pada fase embrional paru pertama kali muncul sebagai sebuah ventral bud yang terpisah dari esofagus
dan kaudal dari sulkus laringotrakheal.
Celah antara bud paru dan esofagus akan semakin dalam, disertai dengan semakin memanjangnya bud dan mesenkim dan semakin
terpisah membentuk calon bronkhi.
2. Fase pseudoglanduler
Fase ini dicirikan dengan pembelahan yang cepat membentuk 15 hingga 20
saluran udara. Saluran udara yang terbentuk dilapisi oleh selapis sel kuboid yang
kaya akan glikogen. Diferensiasi sel berlangsung secara sentrifugal dimana pada
bagian distal tubulus dilapisi oleh sel yang semakin tidak terdiferensiasi.
Pembuluh darah arteri dan paru juga berkembang seiring dengan perkembangan
saluran udara. Di akhir fase pseudoglanduler saluran udara, arteri dan vena
telah berkembang menyerupai pola yang ditemukan pada paru dewasa. Pada fase ini
pula diafragma terbentuk dan memisahkan rongga dada dan abdomen, kegagalan
penutupan akan menyebabkan hernia diafragma dan hipoplasia paru.
3. Fase kanalikuler
Fase kanalikuler, antara 17 hingga 26 minggu kehamilan, menunjukkan
perubahan dari paru yang praviabel menjadi paru yang berpotensi viabel dengan
kemampuannya untuk melakukan pertukaran gas. Perubahan utama yang terjadi pada
fase ini adalah terbentuknya asinus, diferensiasi epitel dengan pembentukan
sawar udara-darah (airblood barrier)
dan dimulainya sintesis surfaktan di sel tipe II. Asinus muncul sebagai sebuah
jonjot di bagian distal saluran udara yang berasal dari sebuah bronkiolus
terminalis. Perkembangan asinus merupakan tahapan penting dalam kemampuan paru
untuk melakukan pertukaran gas di masa berikutnya.
Lapisan mesenkim yang melapisi sekitar saluran udara awalnya miskin akan
vaskularisasi menjadi lebih kaya akan pembuluh darah. Pada fase ini juga
terbentuk daerah permukaan calon tempat terjadinya pertukaran gas. Diferensiasi
epitel dicirikan oleh penipisan dari proksimal ke distal dengan perubahan sel dari epitel
kuboid menjadi epitel tipis yang melapisi rongga saluran udara. Saluran udara
ini semakin bertambah dalam hal panjang dan diameter dengan perubahan mesenkim
yang menjadi semakin kaya akan vaskularisasi. Setelah usia kehamilan 20 minggu
sel kuboid yang kaya akan glikogen ini akan mulai membentuk badan lamellar
dalam sitoplasmanya menandakan dimulainya produksi surfaktan.
4. Fase sakuler
Fase ini merupakan fase perkembangan paru pada janin yang dianggap
viabel yaitu pada usia kehamilan 26 hingga 36 minggu. Sakulus merupakan
struktur terminal dari paru janin, yang terdiri dari tiga tahapan pembentukan,
yaitu bronkiolus repiratorik, duktus alveolaris, baru kemudian terjadi septasi
sekunder dari sakulus yang akan membentuk alveoli. Pada fase ini ruang udara
meningkat dari 65.000 pada usia kehamilan 18 minggu menjadi hingga 4 juta pada
usia kehamilan 32-36 minggu. Mikrosvaskularitas juga meningkat, yang berarti
terjadi peningkatan area tempat pertukaran gas.
5. Fase alveolar
Alveolarisasi dimulai pada usia kehamilan 32 hingga 36 minggu dari sakulus
terminalis dengan munculnya septa yang mengandung kapiler, serat elastin, dan
kolagen. Sakulus dan alveoli yang baru terbentuk secara cepat mengalami septa
septasi membentuk 100 juta aleveoli pada aterm dan sekitar 500 juta alveoli
pada orang dewasa. Kecepatan pembentukan alveoli maksimal terjadi pada antara
usia kehamilan 36 minggu hingga beberapa bulan setelah lahir dan selesai pada
sekitar usia 2 tahun. Jika proses alveolarisasi terganggu kemungkinan terjadi
efek buruk jangka pendek dan jangka panjang pada fungsi paru bayi baru lahir.
Sejumlah tindakan intervensi klinis dan bahan kimia diketahui dapat mengganggu
proses alveolarisasi. Hiperoksia, hipoksia dan ventilasi mekanis dapat mempengaruhi alveolarisasi. Glukokortikoid dapat
menyebabkan terhentinya proses alveolarisasi. Glukokortikoid menyebabkan
abnormalitas permanen pada alveoli dan pembuluh darah pada tikus percobaan.
Glukokortikoid yang diberikan pada monyet percobaan pada fase sakuler
mengurangi mesenkim dan membuat paru tampak lebih matur, namun pada saat
mencapai aterm paru memiliki volume gas yang lebih rendah dan jumlah alveoli
yang lebih sedikit. Sedangkan pada domba pemberian glukokortikoid dosis tunggal
atau berulang menyebabkan penurunan jumlah alveoli dan peningkatan ukuran alveoli
setelah terjadi persalinan preterm. Namun pada saat aterm jumlah alveoli
ditemukan normal, menunjukkan bahwa pemulihan dari inhibisi perkembangan
alveoli adalah dimungkinkan (Jobe, 2009).
6. Fisiologi Pernapasan Neonatus
Saat bayi dilahirkan dan sirkulasi fetoplasenta berhenti berfungsi, bayi
tersebut mengalami perubahan fisiologik yang besar sekali dalam waktu yang
sangat cepat. Dalam beberapa menit setelah lahir, sistem pernapasan harus mampu
memberikan oksigen dan mengeliminasi karbondioksida. Kelangsungan hidup bayi
tersebut tergantung pada kecepatan dan keteraturan pertukaran oksigen dan
karbondioksida antara lingkungan barunya dan sirkulasi paru-paru yang terisi
cairan harus diisi dengan udara, udara harus dipertukarkan dengan gerakan
pernapasan yang tepat, dan mikrosirkulasi yang baik harus diciptakan di sekitar
alveoli tersebut. Segera setelah lahir, pola pernapasan bergeser dari satu
inspirasi episodik dangkal, yang khas pada pernapasan janin, menjadi pola
inhalasi lebih dalam dan teratur. Sekarang jelas bahwa aerasi paru-paru
neonatus bukan inflasi dari suatu struktur yang kolaps, melainkan pergantian
cepat cairan bronkhial dan alveoli dengan Udara.
Percobaan pada domba, dan diperkirakan juga pada bayi manusia, cairan
alveoli yang tersisa setelah kelahiran dibersihkan melalui sirkulasi paru dan
pada tingkat yang lebih kecil, melalui sistem limfatik paru. Karena cairan
digantikan dengan udara, terdapat pengurangan cukup besar kompresi vaskuler
paru dan selanjut, menurunkan tahanan aliran darah. Dengan menurunnya aliran
cairan darah arteri pulmonalis, duktus arteiosus normalnya menutup. Penutupan
foramen ovale lebih variabel. Tekanan negatif yang tinggi pada rongga dada
diperlukan untuk menghasilkan suplai udara pertama kali ke dalam alveoli yang
terisi cairan. Normalnya, dari pernapasan pertama setelah lahir ini, secara
progesif lebih banyak udara residual berkumpul di dalam paru-paru, dan setiap
pernapasan berikutnya, diperlukan tekanan pembukaan paru-paru, yang lebih
rendah. Pada bayi aterm normal, pada sekitar pernafasan kelima, perubahan
tekanan-volume yang dicapai pada setiap respirasi sangat serupa dengan orang
dewasa normal. Surfaktan menurunkan tegangan permukaan alveoli oleh karena itu
mencegah terjadinya kolaps paru pada setiap ekspirasi. Tidak adanya surfaktan
yang cukup menyebabkan timbulnya RDS dengan cepat (Alibasya, 2005).
Dari temuan eksperimental sintesis surfaktan distimulasi oleh berbagai
macam hormon, growth factor, dan
faktor transkripsi termasuk diantaranya glukokortikoid, hormon tiroid, thyrotropin-releasing hormone (TRH),
prolaktin, cyclicadenosine monophosphate (cAMP),
asam retinoat, epidermal growth factor,
dan thyroid transcription factor. Diantara faktor-faktor tersebut
glukokortikoid paling banyak
diteliti. Pemberian glukokortikoid memberikan efek berupa perubahan morfologi
yang menandakan terjadinya akselerasi terhadap maturasi paru meliputi alveoli
yang membesar, septa interalveoler yang lebih tipis, peningkatan jumlah sel
tipe 2, dan jumlah lamellar body di dalamnya. Sebagai tambahan, glukokortikoid juga meningkatkan biosintesis fosfolipid juga protein-protein surfaktan.
7.
Respiratory Distress Syndrome (RDS) pada
bayi prematur
Sindrom gangguan napas ataupun sering disebut sindrom gawat napas (respiratory distress syndrome/RDS)
adalah istilah yang digunakan untuk disfungsi pernapasan pada neonatus.
Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan
perkembangan maturitas paru (Whalley dan Wong, 1995). Gangguan ini biasanya
juga dikenal dengan nama hyaline membrane disease (HMD) atau penyakit membran
hialin, karena pada penyakit ini selalu ditemukan membran hialin yang melapisi
alveoli. Sindrom gangguan pernapasan adalah kumpulan gejala yang terdiri dari
dispnea atau hiperapnea dengan frekuensi pernapasan lebih dari 60 kali/menit,
sianosis, rintihan pada ekspirasi dan kelainan otot-otot pernapasan pada
inspirasi
Bayi prematur lahir dengan kondisi paru yang belum siap sepenuhnya untuk
berfungsi sebagai organ pertukaran gas yang efektif. Hal ini merupakan faktor
kritis dalam terjadi RDS, ketidaksiapan paru menjalankan fungsinya tersebut
disebabkan oleh kekurangan atau tidak adanya surfaktan. Surfaktan adalah
substansi yang merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi
kolaps pada akhir ekspirasi dan mampu menahan sisa udara fungsional /kapasitas
residu funsional (Ilmu Kesehatan Anak, 1985). Surfaktan juga menyebabkan
ekspansi yang merata dan menjaga ekspansi paru pada tekanan intraalveolar yang
rendah. Kekurangan
atau ketidakmatangan fungsi surfaktan menimbulkan ketidakseimbangan
inflasi saat inspirasi dan kolaps alveoli saat ekspirasi. Bila surfaktan tidak
ada, janin tidak dapat menjaga parunya tetap mengembang. Oleh karena itu, perlu
usaha yang keras untuk mengembangkan parunya pada setiap hembusan napas
(ekspirasi) sehingga untuk pernapasan berikutnya dibutuhkan tekanan negatif intratoraks yang lebih besar dengan disertai usaha
inspirasi yang lebih kuat. Akibatnya, setiap kali bernapas menjadi sukar
seperti saat pertama kali bernapas (saat kelahiran). Sebagai akibat, janin
lebih banyak menghabiskan oksigen untuk menghasilkan energi ini daripada yang
ia terima dan ini menyebabkan bayi kelelahan. Dengan meningkatnya kelelahan,
bayi akan semakin sedikit membuka alveolinya. Ketidakmampuan mempertahankan
pengembangan paru ini dapat menyebabkan atelaktasis. Tidak adanya stabilitas
dan atelektasis akan meningkatkan pulmomary
vascular resistance (PVR) yang nilainya menurun pada ekspansi paru normal.
Akibatnya, terjadi hipoperfusi jaringan paru dan selanjutnya menurunkan aliran
darah pulmonal. Di samping itu, peningkatan PVR juga menyebabkan pembalikan
parsial sirkulasi darah janin dengan arah aliran dari kanan ke kiri melalui
duktus arteriosus dan foramen ovale.
Kolaps baru (atelektasis) akan menyebabkan gangguan ventilasi pulmonal yang
menimbulkan hipoksia. Akibat dari hipoksia adalah konstriksi vaskularisasi
pulmonal yang menimbulkan penurunan oksigenasi jaringan dan selanjutnya
menybabkan metabolisme anareobik.
Pengukuran produksi surfaktan paru merupakan metode paling efektif untuk
mengevaluasi tingkat kematangan paru. Meskipun tes kematangan paru janin sudah
ditemukan lebih dari dua puluh tahun yang lalu, namun tingkat sensitivitas dan
spesifisitasnya masih rendah
Salah satu tes yang paling mudah dan cepat
dilakukan untuk
menentukan tingkat kematangan paru adalah gastric shake test (GST).
Tes ini dapat digunakan untuk menilai adanya
surfaktan dalam paru-
paru bayi saat lahir dan menentukan tingkat
maturitas paru. Prinsip dari
tes
ini adalah melihat
kemampuan surfaktan
pada cairan amnion
untuk
membentuk gelembung yang
stabil ketika dicampur
etanol
yang diambil dari aspirat lambung melalui nasogastrik tube
(Noorishadkam, et al., 2014)
Prosedur dari GST ini adalah:
1. Tuangkan 0,5 ml aspirat lambung pada test
tube
2. Tambahkan 0,5 ml normal saline
3. Kocok selama 15 detik
4. Tambahkan 1 ml alcohol 95 %
5. Kocok selama 15 detik dan lihat hasilnya selama
15 menit
Interpretasi GST:
Neonatus imatur: tidak ada gelembung, 60 %
terjadi HMD.
+1 gelembung sangat kecil pada meniskus (lebih dari 1/3) 20%
terjadi risiko HMD
+2 gelembung
1 deret, lebih dari 1/3 permukaan tabung
+3 gelembung satu deret pada seluruh permukaan dan beberapa gelembung pada
dua deret terjadi HMD 1%.
+4 gelembung pada dua deret atau lebih Paru
neonatus matur
Berbeda dengan hasil penelitian Noorishadkam,et al. (2014) yang menyatakan bahwa GST merupakan tes yang memiliki
tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi untuk memprediksi terjadinya
RDS, penelitian dari Merpisheh, et al.,(2015)
yang menyatakan bahwa GST bukan merupakan metode yang akurat untuk
memprediksi kurangnya surfaktan paru pada bayi baru lahir.
Derajat beratnya distress nafas dapat dinilai dengan menggunakan skor
Silverman-Anderson dan skor Downes. Skor Silverman-Anderson lebih sesuai
digunakan untuk bayi prematur yang menderita hyaline membrane disease (HMD), sedangkan skor Downes merupakan
sistem skoring yang lebih komprehensif dan dapat digunakan pada semua usia
kehamilan. Penilaian dengan sistem skoring ini sebaiknya dilakukan tiap
setengah jam untuk menilai progresivitasnya
Pemeriksaan
|
Skor
|
|||
0
|
1
|
2
|
||
Frekuensi napas
|
< 60 /menit
|
60-80 /menit
|
> 80/menit
|
|
Retraksi
|
Tidak ada retraksi
|
Retraksi ringan
|
Retraksi berat
|
|
Sianosis
|
Tidak ada sianosis
|
Sianosis hilang
|
Sianosis menetap
|
|
dengan
02
|
walaupun diberi
|
|||
O2
|
||||
Air entry
|
Udara masuk
|
Penurunan ringan
|
Tidak ada udara
|
|
udara masuk
|
masuk
|
|||
Merintih
|
Tidak merintih
|
Dapat didengar
|
Dapat didengar
|
|
dengan stetoskop
|
tanpa alat bantu
|
Skor > 6 : Ancaman gagal
nafas











